TULISAN APA SAJA

1.3.10

KEBAKARAN HUTAN

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia termasuk kedalam 7 negara dengan bioderfesity tertinggi di Dunia, sehingga di dalamnya terdapat berbagai keaneka ragaman dari dalam air sampai ke udara, dan sebagian besar terdapat di dalam Hutan. Hutan memiliki fungsi penting seperti fungsi hidrologi, fungsi produksi, fungsi rekresiasi, fungsi pertahanan dan keamanan dan masih banyak lagi dari fungsi hutan lainya. Melihat peranan penting hutan maka usaha untuk melestarikan hutan sangat penting untuk keberlangsungan dari fungsi-fungsi tersebut. Salah satu yang menyababkan terganggunya fungsi hutan bila terjadi kebakaran hutan. Kebakaran hutan mengakibatkan kerusakan yang besar di bandingkan dengan kerusakan yang disebabkan oleh faktor lainya, kebakaran hutan dapat berbagai macam baik yang disebabkan oleh manusia maupun oleh faktor alam. Penyebab kebakaran dari faktor manusia adalah penyebab yang paling besar karena adanya kebutuhan akan lahan untuk pemukiman dan perladangan, yang sering terjadi adalah bila membutuhkan lahan garapan alternatif untuk membuka lahan paling mudah dan cepat adalah menggunakan cara pembakaran, selain dari ulah manusia faktor dari alam juga merupakan salah satu penyebab kabakaran alah faktor alam, di Indonesia yang meiliki dua musim sangat mudah terjadi kebakaran hutan karena musim kemarau panjang yang menyebabkan banyaknya berkurangnya kadar air pada hutan sehingga terjadi gesekan-gesekan yang terjadi karena adanya pergerakan yang disebabkan oleh angin menimbulkan percikan api ditambah dengan berkurangnya kadar air yang kurang dari 30% maka menyebabkan kebakaran hutan. Dalam mencegah kebakaran hutan maka diperlukan suatu manjemen penanggulangan kebakaran hutan, salah satu caranya dengan melakukan kegiatan penilaian bahaya kebakaran hutan. Metoda Penilaian Kebakaran Hutan telah banyak dikembangkan untuk mengetahui tingkat bahaya kebakaran hutan. Indks Kekeringan Keetch-Byram (KBDI) yang diterapkan di Kalimantan Timur. Menurut Deeming (1995) system ini dinilai dapat diandalkan sebagai model yang diusulkan dalam sistem penilaian bahaya kebakaran. Keuntungan menggunakan KBDI terletak pada cara pengumpulan data yang semuanya dapat diperoleh di stasiun Klimatologi yang berupa data-data tentang curah hujan, curah hujan tahunan, curah hutan harian dan temperature harian maksimum, selainitu KBDI dapat di hitung secara manual dan persamannya di program kedalam computer.
B. Maksud dan Tujuan
Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memberikan tambahan informasi mengenai Pengaruh Iklim / Cuaca terhadap kebakaran hutan dengan tujuan agar menjadi suatu referensi bagi pengelola hutan dalam upaya mencegah terjadinya kerusakan hutan yang lebih lanjut dan dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. 
II.TINJAUAN PUSTAKA
Chandleret.al.(1983) menyatakan bahwa cuaca dan iklim mempengaruhikebakaran hutan dengan bebrbagai cara yang saling berhubungan yaitu :
1. klim menentukan jumlah total bahan bakar yang tersedia.
2. Iklim menentukan jangka waktu dan kekerasan musim kebakaran.
3. Cuaca mengatur kadar air dan kemudahan bahan bakar hutan untuk terbakar.
4. Cuaca mempengaruhi proses penyalaan dan penjalaran kebakaran hutan.
Menurut Fuller (1991), karena cuaca sangat mempengaruhi bagaimana, dimana dan kapan kebakaran hutan dapat terjadi, pengendali kebakaran menyebutnya sebagai cuaca kebakaran (fire weather) yaitu sifat-sifat cuaca yang mempengaruhi terjadinya kebakaran.Seperti cuaca panas yang kering disertai dengan angin ribut, badai dan petir akanmenyebabkan kebakaran.Faktor-faktor cuaca seperti suhu udara, kelembaban, stabilitas udara serta kecepatan dan arah angin secara langsung mempengaruhi terjadinya kebakaran. Faktor-faktor lain seperti jangka musim yang lama berpengaruh pada pengeringan bahan bakar,sehingga secara tidak langsung dalam jangka pendek maupun jangka panjang akan mempengaruhi terjadinya kebakaran hutan.Iklim pada masing-masing wilayah geografi menentukan tipe bahan bakar dan panjangnya musim kebakaran atau waktu dalam setahun dimana sering terjadi kebakaran.Brown dan Davis (1973) menyatakan bahwa pola, lamanya dan intensitas dari musim kebakaran dari suatu daerah tertentu merupakan fungsi utama dari iklim tetapi sangat dipengaruhi oleh sifat bahan bakar hutan. Selain pola cuaca kebakaran hutan yang bersifat tahunan, berulang maupun musiman mencerminkan bahan bakar dan cuaca, musim kebakaran yang parah juga dihubungkan dengan musim kering yang berskala dan cenderung untuk terjadi dalam suatu siklus.Cuaca api didefinisikan sebagai kondisi cuaca yang mempengaruhi awal terjadi kebakaran, sifat-sifat kebakaran dan pengendalian kebakaran. Musim kebakaran adalah jangka waktu tertentu dimana kebakaran banyak terjadi, menjalar dan mengakibatkan kerusakan yang cukup parah sehingga memerlukan organisasi pengendali kebakaran (Brown dan Davis, 1973). 
III. RUMUSAN MASALAH DAN ANALISA MASALAH
Kebakaran terjadi karena beberapa masalah salah satunya terjadi karena adanya pengaruh dari iklim, faktor-faktor iklim yang berpengaruh kepada kebakaran hutan yaitu:
1. Suhu udara
Suhu bahan bakar adalah salah satu faktor yang menentukan. Suhu dicapai dengan penyerapan radiasi matahari secara langsung dan konduksi dari lingkungan termasuk udara yang meliputinya. Suhu udara merupakan faktor yang selalu berubah dan mempengaruhi suhu bahan bakar serta kemudahannya untuk terbakar (Chandler et. al. 1983).Temperatur udara bergantung pada intensitas panas atau penyinaran matahari. Daerah-daerah dengan temperatur tinggi akan menyebabkan percepat pengeringnya bahan bakar dan memudahkan terjadinya kebakaran (Dirjen PHPA, 1994). Menurut Young dan Giesse (1991), suhu udara merupakan faktor cuaca penting yangmenyebabkan kebakaran. Suhu udara secara konstan merupakan faktor yang berpengaruh pada suhu bahan bakar dan kemudahan bahan bakar untuk terbakar.Menurut Saharjo (1997), pada pagi dengan suhu yang cukup rendah sekitar 20oC ditambah dengan rendahnya kecepatan angin membuat api tidak berkembang sehingga terkonsentrasi pada satu titik. Sementara siang hari dengan suhu 300 – 35oC, sedangkan kadar air bahan bakar cukup rendah (< 30%) membuat proses pembakaran berlangsung cepat dan bentuk kebakarannya pun tidak satu titik, tapi berubah-ubah karena pengaruh angin.Bahan bakar merupakan bahan-bahan organik yang mudah terbakar dan merupakan salah satu faktor yang menentukan bahan bakar untuk terbakar dan sangat menentukan kebakaran. Suhu bahan bakar dicapai melalui penyerapan radiasi matahari secara langsung serta kondisidari lingkungan termasuk udara dari sekitar bahan bakar ( thoha 1998 ). Masing-masing jenis bahan bakar memiliki suhu tertentu yang merupakan suhu kritis sehingga bahan tersebut akan terbakar. Suhu udara merupakan factor yang selalu berubah dan mempengaruhi suhu bahan bakar serta kemudahannya untuk terbakar. Suhu udara tergantung intensitas panas atau penyinaran matahari. Daerah dengan suhu tinggi akan menyebabkan cepat terjadinya pengeringan bahan bakar dan memudahka terjadinya kebakaran. Hal ini terutama terjadi pada musim kemarau yang panjang. 2. Kelembaban Udara Kelembaban udara berasal dari evaporasi air tanah, badan air dan transpirasi tumbuh-tumbuhan. Ketika kandungan air di udara sama dengan besarnya penguapan air,maka terjadilah kondisi jenuh udara. Umumnya kandungan air di udara lebih kecil dari penguapan yang terjadi, dan kondisi ini disebut udara tak jenuh. Para ahli metereologi menggambarkan kelembaban udara sebagai Relative Humidity (kelembaban relatif) yang didefinisikan sebagai rasio antara kandungan air dalam udara pada suhu tertentu dengan kandungan air maksimum yang dapat dikandung pada suhu dan tekanan yang sama.Kelembaban nisbi atau kelembaban udara di dalam hutan sangat mempengaruhi pada mudah tidaknya bahan bakar yang ada untuk mengering, yang berarti mudah tidaknya terjadi kebakaran (Dirjen PHPA, 1994).Menurut Suratmo (1985), cuaca atau iklim merupakan faktor yang sangat menentukan kadar air bahan bakar hutan, terutama peranan air hujan. Di dalam musim kering kelembaban udara sangat menentukan kadar air bahan bakar. Menurut Saharjo (1997), kelembaban relatif yang tinggi di pagi hari yaitu sekitar 90– 95 % ditambah dengan rendahnya kecepatan angin membuat api tidak berkembang sehingga terkonsentrasi pada satu titik. Sementara siang hari dengan kelembaban relative 70 – 80 % dan kadar air bahan bakar cukup rendah (< 30%) membuat proses pembakaran berlangsung cepat dan bentuk kebakarannya pun tidak satu titik, tapi berubah-ubah karena pengaruh angin (Saharjo, 1997).Kelembaban udara berasal dari evaporasi dari bahan-bahan air, tanah serta transpirasi tumbuh-tumbuhan. Di dalam hutan kelembaban udara akan sangat mempengaruhi mudah tidaknya bahan bakar mengering dan terbakar, hal ini terjadi karena kelembaban udara dapat menentukan jumlah kandungan air di dalam bahan bakar. 3. Curah Hujan Curah hujan mempengaruhi kelembaban dan kadar air bahan bakar. Bila kadar air bahan bakar tinggi akibat curah hujan yang tinggi maka sulit untuk terjadinya kebakaran. Namun sebaliknya bila curah hujan rendah disertai suhu tinggi serta didukung oleh kemarau yang panjang menyebabkan kebakaran akan mudah berlangsung, di karenakan kadar air pada bahan bakar akan berkurang atau menjadi < 30% menyebabkan bahan bakar mudah terbakar dan panjangnya musim kering maka mebuat sering terjadinya kebakaran hutan. 4. Angin Menurut Chandler et. al. (1983), angin merupakan salah satu faktor penting dari faktor-faktor cuaca yang mempengaruhi kebakaran hutan. Angin bisa menyebabkan kebakaran hutan melalui beberapa cara. Angin membantu pengeringan bahan bakar yaitu sebagai pembawa air yang sudah diuapkan dari bahan bakar. Angin juga mendorong dan meningkatkan pembakaran dengan mensuplay udara secara terus menerus dan peningkatan penjalaran melalui kemiringan nyala api yang terus merembet pada bagian bahan bakar yang belum terbakar.Lebih lanjut Deeming (1995) mengemukakan bahwa tiupan angin, akanmemperbesar kemungkinan membesarnya nyala api dari sumbernya (korek api, obor, kilat dan sebagainya). Sekali nyala api terjadi, maka kecepatan pembakaran, lama penjalarandan kecepatan perkembangan api akan meningkat dengan makin besarnya tiupan angin. Sedangkan menurut Suratmo (1985), angin menentukan arah dan menjalarnya api dan mempunyai korelasi positif dengan kecepatan menjalarnya api, tetapi besar kecilnya api ditentukan oleh kadar air bahan bakar.Angin merupakan salah satu faktor yang penting dari komponen-komponen cuaca yang mempengaruhi kebakaran ( Chandler et al. 1983 ). Angin mempengaruhi kebakaran hutan melalui beberapa cara diantaranya angin membantu pengeringan bahan bakar yaitu sebagai pembawa air yang sudah diuapkan dari bahan bakar. Angin juga mendorong dan meningkatkan kemampuan dengan memasok secara terus menerus , dalam hal ini oksigen yang merupakan salah satu komponen pemicu terjadinya kebakaran, selain itu angin menentukan arah penjalaran api dan mempunyai korelasi positif terhadap kecepatan penjalarannya. Namun besar kecilnya api ditentukan kadar air bahan bakar ( Affan 2002 ). Peran angin dalam mempercepat penjalaran api dapat berlangsung dengan adanya perbedaan tekanan udara akibat perbedaan pemanasan. 5. Radiasi Matahari Waktu mempengaruhi kebakaran hutan yaitu melalui proses pemanasan bahan bakar yang dipengaruhi oleh radiasi matahari yang berfluktuasi dalam dalam sehari semalam. suhu maksimum dicapai pada tengah hari sedangkan suhu minimum tercapai pada saat menjelang matahari terbenam dan dini hari (Schroeder dan Buck, 1970). Fuller (1991) menyatakan bahwa perbedaan pemanasan matahari pada permukaan bumi berperan dalam variasi iklim yang memberikan kontribusi pada bahaya kebakaran hutan. Penyinaran matahari, selain memanaskan permukaan bumi juga memanaskan lapisan udara di bawahnya. Pemanasan udara menimbulkan perbedaan tekanan udara yang menyebabkan terbentuknya pola pergerakan angin sehingga angin akan bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Variabel utama yang mengontrol kadar air bahan bakar pada bahan bakar mati adalah curah hujan, kelembaban relatif dan suhu. Angin dan penyinaran matahari merupakan faktor penting pada pengeringan bahan bakar, dimana pengaruhnya pada perubahan suhu bahan bakar dan suhu dan kelembaban relatif pada udara yang berbatasan langsung dengan permukaan bahan baker. Dari faktor-faktor di atas maka kebakaran hutan tindak hanya di sebabkan oleh manusia tapi faktor-faktor dari alam itu sendiri ditambah dengan sumber api dari alam itu sendiri seperti gunung meletus, sambaran halilintar maupun dengan adanya gesekan antara pohon yang satu dengan pohon yang lain yang lama-lama menimbulkan panas dan dapat membakar bahan bakar yang telah berkurang kadar airnya kurang dari 30% sehingga mudah terbakar.   IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Kebakaran hutan terjadi karena adanya campur tangan Manusia maupun terpengararuh oleh faktor-faktor dari alam itu sendiri yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan seperti pengaruh berkurangnya kadar air pada bahan bakar yang disebabkan oleh suhu udara, Kelembaban udara, curah hujan, angin, radiasi matahari dan masih banyak yang lainya maka hutan dapat terbakar karena adanya sumber api baik dari gunung meletus maupun dari gesekan-gesekan atara pohon yang kering ataupun disebabkan oleh sambaran halilintar di dukung dengan bahan bakar yang sudah siap (kadar air kurang dari 30%) menyebabkan hutan mudah terbakar. Tapi faktor yang paling utama terjadinya kebakaran adalah kelalean dari manusia baik di sengaja maupun tidak. B. Saran 1. Untuk menanggulangi kebakaran hutan yang terjadi maka kita harus tetap siap siaga mengantisipasi terjadinya kebakaran supaya dapat segera di atasi 2. Kita harus mengurangi kebiasan-kebiasan buruk dari cara pembukaan lahan yang tidak sesuai dengan membakar hutan dan kebiasan yang lain yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan, karean atanpa adanya campur tangan manusia saja dapat terjadi kebakaran hutan.  

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]



<< Beranda